"Guru,
saya pernah mendengar kisah seorang lelaki arif yang pergi jauh dengan
berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, lelaki arif
konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum.
Hikmah apakah yang dapat saya petik dari kisah ini?""Itu
perlambangan manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam
kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika bernasib baik, sesekali
perlu kita sadari bahwa satu ketika kita akan mengalami nasib buruk
yang tidak kita harapkan. Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira
sampai lupa bersyukur kepada yang Maha Pencipta. Ketika nasib sedang
buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Optimis saja
tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras."
"Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada dibawah."
"Alasannya ialah iman, karena kita yakin akan pertolongan yang Maha Kuasa."
"Hikmah selanjutnya?"
"Orang yang terkenal satu ketika mesti bersiap sedia untuk dilupakan, orang yang diatas harus siap mental untuk turun kebawah.
"Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin.
"Orang sehat mesti ingat akan sakit"
"Orang muda mesti bersiap untuk hari tua"
"Orang hidup mesti bersiap untuk mati"
Lantaran kita berasal dari tanah dan kembali menjadi tanah.... bukankah itu suatu putaran roda.
Nasrullah Sulaiman on his Note - 17 September 2011 pukul 21:46