andiputrifr

andiputrifr

Jumat, 24 Juli 2015

Kamu dan Kopimu, Aku dan Kopiku

Merindukannya. Mungkin. Tapi entahlah, saya hanya tiba-tiba teringat dia.


Sudah beberapa bulan sejak pertemuan yang terencana (itu) tapi cukup lama sampai bisa terealisasikan. Saya mengenalnya lewat sebuah jejaring sosial. Entah dari mana atau dari siapa saya bisa mengenal dia secara maya itu tidak penting. Pertemuan kami yang dilandaskan sebuah kecintaan akan kopi itu masih teringat jelas hingga sekarang. Hari ini, Jumat, 24 Juli 2015 pukul 13.31 WIT konsentrasi saya dibuyarkan oleh kenangan beberapa bulan yang lalu dengannya sebelum saya hijrah ke tanah cendrawasih.

Bermula dari percakapan (chatting) disebuah jejaring sosial berlanjut ke BBM hingga akhirnya kami bertemu di sebuah tempat para penikmat kopi. Pertemuan itu sangat canggung dalam beberapa menit pertama hingga pembahasan tentang dia dan kekasihnya membuat saya menjadi rileks. Kami suka kopi tapi sepertinya selera kopi kami berbeda. Seperti itu mungkin saya mendeskripsikan apa yang saya dan dia rasakan. Perbincangan kami tidak lama, hanya se-jam. Tapi karena itu saya bisa mengenalnya secara perlahan. 

Dia lelaki yang sopan. Dia teman yang ramah. Dia pendengar yang baik. Dia juga kekasih yang setia. Begitu saya menganggap dia hingga detik ini. Cukup dengan mendengar kisah hidupnya saya tau sosok seperti apa dia. Sulit menjelaskannya tapi mudah memahaminya. Pertemanan kami pun baik-baik saja hingga saat ini, meskipun selama mengenal dia, kami hanya dua kali bertemu secara langsung hingga sekarang kami sudah di pulau yang berbeda. Jarak, jangan jadikan alasan bagi seorang teman baik untuk tidak saling mengabari. Intinya, komunikasi. Komunikasi kami baik, saling mengabari meski tidak tiap hari. Stalking, kadang-kadang, saat saya ingin tau apa yang sedang dia lakukan dan kegilaan apa lagi yang dia ciptakan bersama sahabat-sahabatnya.

Semoga kamu baik-baik saja disana Teman Ngopiku :) semoga kita masih bisa bertemu, sama-sama menyeruput kopi kita masing-masing. Dan titipkan salam pada setiap kopi yang kau seduh, kiranya saya bisa sepertinya, selalu menemanimu.